Politik Internasional

Ex Presiden Lula da Silva Berhasil Menang Pilpres Brazil Kalahkan Petahana

Luiz Inacio Lula da Silva berhasil mengalahkan pertahana Jair Bolsonaro untuk menjadi Presiden Brasil berikutnya. Dari 98,8 persen penghitungan suara, Lula da Silva memiliki 50,8 persen dan Bolsonaro bersaing tipis pada 49,2 persen.

Sosok Lula da Silva sendiri pernah menjadi presiden Brasil pada 2003-2010. Pada masa jabatannya kali ini, ia berjanji untuk dapat membuat negara menjadi lebih makmur. Tapi tantangan yang ia hadapi kali ini adalah masyarakat yang sudah terpolarisasi.

Ini adalah kembalinya kekuasaan yang menakjubkan untuk Lola da Silva yang saat ini berusia 77 tahun. Sebelumnya Lula da Silva pernah masuk perjara karena kasus korupsi, itulah yang membuatnya sempat absen pada pemilihan tahun sebelumnya. Itulah yang membuka jalan bagi kemenangan kandidat sebelumnya.

Pertahana sayap kanan Jair Bolsonaro dan Lula dar Silva sangatlah dekat di dalam pemiliham presiden putaran kedua Breasil dengan lebih dari 97 persen suara yang dihitung. Pemilihan ini pun saling mengadu janji untuk dapat melindungi nilai-nilai kristen dan mengemablikan negara itu kembali menjadi makmur. Hasil pemungutan suara pun keluar dengan cepat dan hasil.

Sepanjang paruh pertama perhitungan Bolsonaro memimpin, namun segera Lula da Silva menyusul. Di markas da Silva yang terletak di kota Sao Paulo, orang-orang saling menahan diri untuk merayakan sampai diyakini bahwa da Silva menang. Mereka kemudian meledak dalam sorak-sorai ketika diumumkan da Silva memenangkan pemilihan tersebut.

Di luar rumah Bolsonaro yang terletak di Rio de Janeiro, seorang wanita di atas truk menyampaikan doa melalui sebuah pengeras suara. Ia bernyanyi dengan penuh semangat untuk kembali membangkitkan energi. Tapi suara dari pendukung tidak menanggapi, mereka mulai kembali bersemangat ketika lagu kebangsaan dinyanyikan.

Di putaran pertama pemungutan suara di tanggal 2 Oktober, suara yang dihitung menunjukkan bahwa Bolsonaro unggul dan disusul dengan Lula da Silva. Pemungutan suara ini akan menentukan apakah negara demokrasi keempat di dunia ini akan tetap berada di jalur politik satap kanan yang sama, atau malah mengembalikan seorang kiri ke posisi atas.